5. Refleksi Perasaan

Refleksi perasaan merupakan suatu usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-kata yang segar dan sikap yang diperlukan terhadap klien. Refleksi perasaan juga merupakan teknik penengah yang bermanfaat untuk digunakan setelah hubungan permulaan (tahap awal konseling) dilakukan dan sebelum pemberian informasi serta tahap interpretasi dimulai. Refleksi perasaan bisa berwujud positif, negatif, dan ambivalen.
Refleksi perasaan positif ditunjukkan oleh konselor dalam konseling melalui pernyataan persetujuan atas apa yang disampaikan oleh klien. Refleksi perasaan negatif ditunjukkan oleh konselor dalam konseling melalui pernyataan ketidaksetujuan atau penolakan konselor atas apa yang di- nyatakan oleh klien. Sedangkan refleksi perasaan yang ambivalen (masa bodoh) ditunjukkan oleh konselor dengan membiarkan saja (tidak menyatakan setuju •dan tidak menolak) atas apa yang dinyatakan oleh klien.
Refleksi perasaan akan mengalami kesulitan apabila: (1) streotipe dari konselor, (2) konselor tidak dapat mengatur waktu sesi konseling, (3) konselor tidak dapat memilih perasaan mana untuk direfleksikan, (4) konselor tidak dapat mengetahui isi perasaan yang direfleksikan, (5) konselor tidak dapat menemukan ke dalam perasaan, (6) konselor menambah arti perasaan, dan (7) konselor menggunakan bahasa yang kurang tepat.
Manfaat refleksi perasaan dalam proses konseling adalah: (1) membantu klien untuk merasa dipahami secara mendalam, (2) klien merasa bahwa perasaan menyebabkan tingkah laku, (3) memusatkan evaluasi pada klien, (4) memberi kekuatan untuk memilih, (5) memperjelas cara berpikir klien, dan (6) menguji kedalaman motif-motif klien.
Refleksi merupakan keterampilan konselor untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan nonverbalnya. Refleksi terbagi atas tiga jenis, yaitu (1) refleksi perasaan, (2) refleksi pengalaman, dan (3) refleksi pikiran.
Pertama, refleksi perasaan, yaitu keterampilan konselor untuk
dapat memantulkan (merefleksikan) perasaan klien sebagai hasil
pengamatan verbal dan nonverbal terhadap klien.
Kedua, refleksi pengalaman, yaitu keterampilan konselor untuk
memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil
pengamatan perilaku verbal dan nonverbal klien.
Contoh refleksi perasaan: “Tampaknya yang Anda katakan adalah…..”.
Atau “Barangkali Anda merasa…. ” atau “Hal itu rupanya seperti….. “
atau “Adakah yang Anda maksudkan…. ” dan seterusnya. Dalam proses
konseling, refleksi perasaan misalnya ketika klien mengatakan :”
Si A itu sialan.” “Saya membencinya.” “Saya tidak akan berteman lagi
dengannya.” “Sampai kapan pun saya tidak akan berteman lagi dengannya.”
Mendengar perkataan tersebut, konselor merefleksikan dengan
mengatakan: ” Tampaknya Anda sungguh-sungguh marah dengan si A.”
Contoh refleksi pengalaman: “Tampaknya yang Anda kemukakan
adalah suatu … ” atau “Barangkali yang akan Anda utarakan adalah..” atau
“Adakah yang Anda maksudkan suatu peristiwa “. Dalam proses
konseling, refleksi pengalaman misalnya ketika klien
mengatakan: “Saya trauma dengan masa lalu saya yang hampir tidak ada yang menyenangkan”. Konselor merefleksi dengan mengatakan: “Adakah yang Anda maksudkan adalah peristiwa-peristiwa sedih yang Anda alami padam a s

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s